Praktik Belajar Pernafasan Ala Pramugari Penerbangan

Belajar Pernafasan Ala Pramugari

Belajar Pernafasan Ala Pramugari

BELAJAR PERNAFASAN ALA PRAMUGARI

Belajar Pernafasan Ala Pramugari, Sebagai seorang Safety Profesional, awak kabin (Pramugari) dilatih tidak hanya untuk mampu melakukan evakuasi saat pendaratan darurat, tapi juga bisa memberikan bantuan Resusitasi Jantung Paru (RJP) pada penumpang atau korban yang ditemukan tidak bernafas di dalam pesawat. Semua keahlian ini diajarkan dalam pelatihan yang diberikan setiap 12 bulan sekali yang disebut Recurrent Training.

Kemampuan melakukan Resusitasi Jantung Paru atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan Cardio Pulmonary Resuscitation (CPR). Tidak hanya berguna bagi awak kabin dalam melaksanakan tugasnya saat berada di dalam pesawat. Tetapi juga bermanfaat untuk menolong orang di sekitarnya kapan saja dibutuhkan walaupun sedang tidak bertugas.

Ingin tahu bagaimana caranya memberikan bantuan CPR, Yuk kita belajar di sini.

1. Cek Bahaya (Danger).

Saat menemukan korban dalam keadaan tidak sadarkan diri, hal pertama yang harus dilakukan awak kabin adalah mengecek keadaan sekitar apakah tidak dalam keadaan bahaya. Karena sekiranya dalam memberikan bantuan awak kabin harus memastikan bahwa dirinya tidak akan menjadi korban berikutnya.


2. Cek Respon (Response).

Setelah itu, awak kabin harus mengecek respon dari korban dengan sedikit mengguncang-guncangkan bahu korban sambil menanyakan keadaan korban apakah baik baik saja.


3. Berteriak Minta Tolong (Shout for Help).

Bila tidak ada jawaban dari korban, langkah selanjutnya adalah meminta pertolongan dengan berteriak. Minta tolong atau bila berada dalam pesawat dengan menekan tombol pemanggil awak kabin berkali kali sehingga awak kabin yang lain datang dan turut serta memberi bantuan.


4. Cek jalur Pernafasan (Airway).

Setelah itu membuka jalur pernafasan atau tenggorokan korban dengan cara menekan dahi korban ke arah bawah sambil menarik dagu ke arah atas (Head Tilt Chin Lift). Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa jalur pernafasan terbuka dan lancar.


5. Cek Pernafasan (Breathing).

Sebelum kita memutuskan bahwa seseorang membutuhkan bantuan CPR. Kita harus yakin dulu bahwa orang tersebut dalam keadaan tidak sadar dan tidak bernafas atau tidak bernafas dengan normal.

Caranya dengan mendekatkan kuping ke mulut korban selama 10 (sepuluh) detik. Sambil melihat ke dada korban apakah bergerak naik turun. Dengarkan bunyi nafas korban apakah terdengar tidak normal serta rasakan hembusan angin yang keluar dari mulut korban (Look, Listen and Feel).


6. Pemberian Tekanan Pada Jantung (Compression).

Setelah yakin korban tidak bernafas yang ditandai dengan tidak terlihatnya gerakan pada dada, tidak dirasakan hembusan angin ataupun suara-suara pernafasan yang normal, langkah selanjutnya adalah memberikan tekanan pada dada korban.

Perlu dipastikan juga bahwa posisi korban saat pemberian tekanan harus dalam keadaan terlentang atau berbaring pada permukaan yang datar tidak di atas kursi atau miring ke kiri atau ke kanan.

Lokasi pemberian tekanan harus tepat berada di tengah dada korban dengan meletakkan satu tangan. Kemudian tumpukan tangan berikutnya, genggam erat untuk memberikan kekuatan pada tekanan.

Tidak hanya itu posisi kedua lengan harus lurus tepat di atas dada korban dan mulai memberikan tekanan dengan bantuan dorongan dari punggung dan panggul.

Beri tekanan sebanyak 30  kali kira-kira hampir dua tekanan setiap detiknya atau seratus tekanan dalam satu menit dengan kedalaman sekitar 4 – 5 cm ke dalam dada korban.

Setelah itu dilanjutkan dengan pemberian tiupan nafas sebanyak dua kali. Caranya dengan memposisikan kepala korban tetap dalam keadaan mendongak untuk membuka jalur pernafasan. Tekan hidung korban dengan ibu jari dan telunjuk untuk menutup jalur udara keluar dari hidung.

Lalu kunci mulut korban dengan kedua bibir rapat-rapat dan tiupkan satu nafas hingga dada korban terlihat naik akibat masuknya udara ke dalam paru-paru. Lakukan ini sebanyak dua kali sebelum melanjutkan kembali dengan pemberian tekanan pada dada sebanyak 30 kali.

Proses penekanan pada dada dan pemberian tiupan nafas ini dilakukan dengan rasio 30:2 secara terus menerus sampai korban kembali sadar, atau bantuan medis datang dan memberikan pertolongan yang lebih intensif kepada korban, atau juga apabila keadaan sekitar menjadi tidak aman bagi awak kabin untuk terus memberikan bantuan.

Saat memberikan nafas buatan awak kabin harus berhati-hati agar tidak tertular penyakit lewat cairan berupa air liur, muntah, ataupun darah yang keluar dari mulut korban. Penggunaan masker plastik khusus sebagai pelindung diharapkan dapat mengurangi resiko penyebaran penyakit akibat bersentuhan dengan korban yang sakit.


Belajar CPR Pernapasan Ala Pramugari Pada Bayi & Anak

Pemberian resusitasi pada anak dan bayi, harus selalu diawali dengan pemberian 5 kali tiupan nafas sebelum melakukan penekanan pada dada. Hal ini disebabkan anak-anak dan bayi jarang memiliki ketidak beresan pada jantung mereka. Sehingga koreksi jalur pernafasan dengan pemberian 5 kali tiupan nafas awal lebih diutamakan dibandingkan dengan pemberian tekanan.

Rasio penekanan pada anak-anak dan bayi setelah 5 kali tiupan nafas awal adalah sama dengan rasio penekanan pada orang dewasa yaitu 30 tekanan dan dua kali tiupan atau 30:2.

Lokasi penekanan pada anak-anak sama dengan pada orang dewasa. Hanya saja penekanannya cukup menggunakan satu tangan. Sedangkan pada bayi penekanan menggunakan dua buah jari dengan posisi penekanan terletak pada satu jari di bawah garis puting.

Sekolah Pramugari Terakreditasi

Sekolah Pramugari Terakreditasi

Sekian Informasi Cara Belajar Pernafasan Ala Pramugari Penerbangan Yang Bisa Bermanfaat Kapan Saja, Semoga Bermanfaat..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.